Bank Dunia menilai formalisasi usaha tidak selalu langsung meningkatkan penerimaan pajak karena banyak usaha informal masih berskala kecil.
Bank Dunia menilai formalisasi usaha tidak selalu langsung meningkatkan penerimaan pajak karena banyak usaha informal masih berskala kecil.
MEDIA PAJAK – Kemampuan otoritas pajak dalam mendeteksi dan menangani pelanggaran menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kepatuhan perusahaan di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam laporan Bank Dunia bertajuk Indonesia: Unlocking Businesses’ Tax Potential for Growth.
Dalam laporan tersebut, Bank Dunia menjelaskan bahwa persepsi perusahaan terhadap kemudahan melakukan penghindaran pajak berkaitan erat dengan kemampuan administrasi perpajakan dalam melakukan identifikasi risiko, pengawasan, serta penegakan aturan.
Semakin kuat kemampuan otoritas pajak dalam mendeteksi ketidakpatuhan, semakin kecil ruang bagi perusahaan untuk menghindari pemenuhan kewajiban perpajakannya.
Bank Dunia menilai penguatan mekanisme pengawasan menjadi bagian penting dalam meningkatkan penerimaan pajak.
Dengan jumlah wajib pajak dan aktivitas ekonomi yang besar, pendekatan pengawasan tidak dapat hanya mengandalkan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap seluruh perusahaan.
Karena itu, penggunaan data dan analisis risiko menjadi instrumen penting untuk menentukan sektor, wilayah, atau kelompok wajib pajak yang memiliki potensi risiko ketidakpatuhan lebih tinggi.
Pendekatan berbasis risiko memungkinkan otoritas pajak menggunakan sumber daya secara lebih efektif sekaligus memberikan perlakuan yang lebih proporsional kepada wajib pajak.
Transformasi digital perpajakan menjadi salah satu elemen yang dapat memperkuat kemampuan otoritas pajak dalam melakukan pengawasan.
Melalui pemanfaatan data transaksi, informasi keuangan, dan integrasi sistem administrasi, pemerintah dapat meningkatkan kemampuan dalam melihat pola kepatuhan wajib pajak.
Namun, penguatan teknologi tetap perlu diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola agar proses pengawasan berjalan secara efektif.
Bank Dunia menilai kombinasi antara data, teknologi, dan kapasitas institusi menjadi faktor penting dalam membangun sistem perpajakan yang lebih kuat.

Meningkatkan kemampuan pengawasan pajak juga perlu berjalan seimbang dengan pemberian kepastian bagi dunia usaha.
Sistem perpajakan yang efektif bukan hanya mampu menemukan pelanggaran, tetapi juga mampu memberikan panduan agar wajib pajak memahami dan menjalankan kewajibannya dengan benar.
Dengan memperkuat deteksi risiko, meningkatkan pelayanan, dan menjaga kepastian aturan, pemerintah dapat mendorong peningkatan kepatuhan sukarela sekaligus memperkuat penerimaan negara.
Bank Dunia menyoroti kompleksitas administrasi pajak sebagai tantangan dunia usaha dan mendorong penyederhanaan sistem untuk meningkatkan kepatuhan.
Bank Dunia menyoroti kompleksitas administrasi pajak sebagai tantangan dunia usaha dan mendorong penyederhanaan sistem untuk meningkatkan kepatuhan.
Bank Dunia menilai kepercayaan wajib pajak terhadap otoritas pajak menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepatuhan dan memperkuat penerimaan negara.
Bank Dunia menyoroti pentingnya data, analisis risiko, dan teknologi untuk memperkuat pengawasan pajak serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak Indonesia.
Bank Dunia menemukan 52% perusahaan Indonesia menilai penghindaran PPh Badan masih mudah dilakukan. Kepatuhan pajak menjadi tantangan pemerintah.